Puan dan Ganjar

Poster bergambar Ganjar Pranowo dan Puan Maharani terpasang di sepanjang trotoar Jalan Rajawali, Surabaya, sepekan terakhir ini. Di bawah foto Ganjar dan Puan tertulis nama organisasi Laskar Ganjar Puan. Politikus senior PDI Perjuangan Saleh Ismail Mukadar mengakui dialah yang menginisiasi pembentukan organisasi tersebut.

Mantan Ketua PDIP Surabaya itu beralasan pembentukan Laskar Ganjar Puan berawal dari kegelisahannya melihat gesekan kader partai banteng moncong putih di akar rumput kian tajam. Polarisasi itu imbas dari persaingan Ganjar dan Puan berebut tiket PDIP ke pemilu presiden 2024.

Saleh mengaku berupaya agar gesekan di internal partai tersebut tidak makin tajam. “Dua-duanya kader kami, kalau terjadi gesekan kan yang rugi kami sendiri dan yang untung orang lain,” kata Saleh saat dihubungi, Rabu, 9 Februari 2022.

Saleh mengatakan bisa merasakan keterbelahan massa partai di tingkat bawah kendati di permukaan terlihat adem ayem. Ia yang pernah mengurusi klub Persebaya Surabaya selama 13 tahun lantas membandingkan perseteruan Bonek dengan Aremania.

Menurutnya, di tingkat bawah eskalasi gesekan relawan pendukung Ganjar dan pendukung Puan meningkat. Ia khawatir ketegangan itu dimanfaatkan pihak lain untuk melemahkan PDIP. “Saya bisa merasakan, (kondisinya) seperti Bonek dan Aremania dulu, ini bahaya kalau tidak diredam,” tutur Saleh yang juga Ketua Dewan Pimpinan Daerah Laskar Ganjar Puan Jawa Timur.

Saleh berharap Ganjar dan Puan berpasangan maju dalam pemilu. Tapi bila PDIP tidak merekomendasikan, Saleh akan tetap tegak lurus pada keputusan partai. Menurutnya soal calon presiden dan wakil presiden menjadi ranah Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. “Siapa pun yang direkom, kami mendukung,” kata dia.

Pengamat politik dari Universitas Brawijaya Malang Wawan Sobari melihat pasangan Ganjar-Puan punya kans menang bila diusung ke Pilpres 2024. Ganjar didukung arus bawah, adapun Puan didukung oleh level elite PDIP. Pemasangan keduanya juga dinilai efektif meredam keterbelahan di internal PDIP.

Apalagi dari sejumlah simulasi survei, kata Wawan, Ganjar dapat mengatrol suara pasangannya. “Dari berbagai simulasi hasil survei, hanya Ganjar dan Anies Baswedan yang dapat mendongkrak perolehan suara walaupun dipasangkan dengan siapa saja,” kata Wawan.

Namun Wawan menilai tidak mudah bagi PDIP untuk tidak berkoalisi dengan partai lain. Penyebabnya, tidak ada branding kekuatan Islam dalam partai tersebut. Sementara bila lawannya Anies, branding yang melekat ialah tokoh muda Islam. “Dengan riil politik seperti itu, apakah PDIP percaya diri mengusung kader sendiri dalam pilpres,” ujar Wawan soal pasangan Ganjar dan Puan. [Sumber berita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here