Pengamat Politik, Ray Rangkuti, saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2019). (AKURAT.CO/Faqih Fathurahman)
Pengamat Politik, Ray Rangkuti, saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2019). (AKURAT.CO/Faqih Fathurahman)

Mencuatnya nama Anies Baswedan menjadi bakal calon presiden dari Partai Nasdem dinilai wajar. Sebab saat ini tidak ada kader Nasdem yang mumpuni untuk diusung di pentas Pilpres.

“Faktanya sejauh ini belum ada satupun kader Nasdem yang memiliki popularitas apalagi elektabilitas yang bahkan mencapai dua persen,” kata Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti kepada wartawan, Jumat (6/5/2022).

Menurutnya, partai politik termasuk Partai Nasdem sudah tentu menjadikan elektabilitas dan popularitas sebagai pertimbangan penting dalam menentukan figur yang akan diusung di pilpres. Sementara elektabilitas dan popularitas Anies sendiri selalu menempati posisi tiga teratas berdasarkan hasil survei lembaga sigi.

Terlebih kata Ray, Anies punya hubungan historis dengan Nasdem. Meski tidak memegang kartu anggota Partai Nasdem, Anies adalah salah satu pendiri Ormas Nasional Demokrat yang merupakan cikal bakal Partai Nasdem.

“Maka pilihannya adalah mencari figur yang dapat diasosiasikan dengan Nasdem. Sebab jika datang dari kader partai politik tertentu akan sulit di’Nasdem’kan,” tambahnya.

Ray berpendapat Anies akan mendapatkan tempat lebih di hati pimpinan Nasdem meski sejauh ini ada tiga nama lainnya yang muncul dalam bursa capres Nasdem. Ketiga nama lainnya yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Panglima TNI Jenderal Andhika Perkasa.

“Anies memiliki dua setengah kriteria. Popularitas dan elektabilitas. Setengahnya lagi ada pada kedekatan historis. Anies pernah bersama-sama perahu keluarga besar Nasdem,” ujar Ray.

Meski demikian Ray memberikan catatan jika Anies benar-benar dipilih menjadi capres oleh Partai Nasdem. Yakni ideologi menyangkut toleransi, pluralisme dan politik non identitas dalam pemilu.

“Dan uniknya, korban dari politik identitas itu salah satunya adalah Nasdem sendiri,” ungkap Ray. Apakah Anies dapat diterima setelah Nasdem jadi korban politik identitas di Pilkada DKI, dan sebaliknya apakah Anies mampu memberi penjelasan soal maraknya politik identitas yang menimpa Ahok dan pendukungnya saat itu, ” tambah Ray.

Kedua, terkait model kepemimpinan. Anies menurutnya cenderung tipe pemimpin yang tidak berani mengambil resiko.

“Ganjar, Ridwan dan Erick (Meneteri BUMN Erick Thohir) adalah tipe pemimpin yang berani mengambil resiko untuk melakukan keputusan politik. Sementara Anies terlihat seperti gaya mengayun dan memilih jalur aman, ” pungkasnya. [Sumber berita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here