Ketua Komisi VII DPRRI, Sugeng Suparwoto menyerahkan bantuan kepada petani di Karanganyar / Foto: Beni Indra
Ketua Komisi VII DPRRI, Sugeng Suparwoto menyerahkan bantuan kepada petani di Karanganyar / Foto: Beni Indra

Melalui Komisi VII DPR-RI, Partai Nasdem Gulirkan Konsep revolusi pertanian dari sistem pertanian manual menjadi pertanian korporasi yang mana ruhnya kepemilikan hasil pertanian diwadahi melalui sistem koperasi.

Sistem pertanian koorporasi tersebut diluar negeri terbukti sukses mensejahterakan petani.

Penegasan itu disampaikan oleh Ketua Komisi VII DPRRI, Sugeng Suparwoto kepada wartawan usai membuka Festival Caping Sewu di Desa Rejosari, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Minggu (15/5/2022).

“Ingat hampir 100 juta rakyat Indonesia terlibat sektor pertanian namun boleh dikata hidupnya kurang sejahtera karena petani hanya menjadi pekerja dengan upah rendah meski menggarap sawahnya sendiri hal itu disebabkan tidak adanya sistem koperasi alias hasil individu petani,” ungkap Sugeng Suparwoto.

Lebih lanjut Sugeng menjelaskan jika kondisi hasil pertanian stagnan tidak mampu mensejahterakan petaninya maka lambat laun

pekerjaan bertani akan semakin susut jumlahnya dan berdampak terhadap kestabilan pangan karena generasi muda tidak mau bertani.

Untuk itulah Parrai Nasdem konsisten memperjuangkan merenovasi sistem pertanian agar petani sejahtera dan menjadi juragan yang menguntungkan atas hasil pertaniannya sendiri.

“Kita saksikan diluar negeri di Eropa banyak truk-truk besar memuat hasil pertanian dan hortikultura bertulisan koperasi yang artinya petani memiliki saham atas hasil pertanian lalu dikelola dalam wadah koperasi maka jelas itu menguntungkan petani,” tandas Sugeng Suparwoto.

Terhadap konsep pertanian korporasi tersebut Partai Nasdem melalui wakilnya di DPR-RI terus berjuang.

Salah satunya Partai Nasdem melalui Komisi VII DPR-RI mendesak pemerintah pusat membuat pabrik pupuk di Jawa Tengah guna mengatur kestabilan disttibusi pupuk atas kebutuhan petani.

Pasalnya yang terjadi tragis, Provinsi Jateng sebagai lumbung pangan nasional, namun petaninya sering kekurangan pupuk. Bahkan selama ini pupuk di Jateng dipasok dari Jabar dan Jatim.

“Jawa Tengah sebenarnya mampu membuat pabrik Pupuk karena sumber daya alamnya mendukung yakni bisa di Kabupaten Cilacap,” ujarnya.

Sugeng menjelaskan di Cilacap dinilai sangat memenuhi syarat, karena di sana ada kilang minyak, rivenery serta terdapat pelabuhan yang memadai.

Dia meyakini dengan dibangun pabrik pupuk di Jateng mampu memaksimalkan hasil pengelolaan tanaman pangan dan kebutuhan dan kecukupan menjadi lebih tepat waktu dan harga pun terjangkau.

Sementara itu terkait Festival Caping di Gondangrejo tersebut juga ditampilkan
pameran hasil pertanian sekaligus pelantikan pengurus DPD Petani Jateng, dengan Ketua Fauzi Bayu.

Selain itu dari Kementerian Pertanian juga menyerahkan bantuan peralatan pertanian barupa 10 unit traktor, 15 pompa air, 10 unit cultivator, 20 unit hand sprayer. [Sumber berita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here