SEKRETARIS : Sekretaris DPD Hanura Bali, Gde Wirajaya Wisna. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)
SEKRETARIS : Sekretaris DPD Hanura Bali, Gde Wirajaya Wisna. (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Hanura Provinsi Bali, Kamis 31 Maret 2022 besok akan menggelar Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) dan Rapat Kerja Daerah (Rakerda). Kegiatan tersebut sebagai langkah partai menyemangati para kadernya menjelang pesta demokrasi pada tahun 2024 nanti.

Dikonfirmasi Sekretaris DPD Hanura Bali, Gde Wirajaya Wisna, menjelaskan pihaknya telah melangsungkan pra Rapimda dan Rakerda dua hari lalu di Kantor DPD Hanura Bali. “Dalam pra – Rapimda dan Rakerda ini dibahas beberapa materi pokok untuk dimatangkan sejauh mungkin. Karena nanti ada pleno dan lomba orasi politik,” jelasnya,Selasa (29/3).

Dia juga mengatakan Rapimda dan Rakerda tersebut sebagai langkah Hanura Bali menuju sukses di Pemilu 2024. Maka dalam pertemuan di kadernya dari DPD, DPC dan PAC se- Bali nanti akan dibahas juga strategi-stategi politik dalam menghadapi pesta demokrasi tersebut.

“Dalam hal ini juga dalam konteks verifikasi, guna menyongsong susunan para caleg. Karena tahapan Pemilu sebenarnya tahun 2022 sudah mulai, sebagai tahun politik. Namun puncaknya di tahun 2024,” imbuh Gde Wirajaya.

Dalam kesempatan itu, dia menegaskan hasil dari pra Rapimda target-target di tahun 2024 akan digarap maksimal. Supaya di tingkat provinsi dan kabupaten/kota terbentuknya satu Fraksi Partai Hanura. “Posisi sekarang Hanura Buleleng sudah satu fraksi, Klungkung juga satu fraksi. Tinggal target kabupaten/kota yang lainnya menyusul,” tegasnya.

Ditambahkannya, Gde Wirajaya mengungkapkan pihaknya sudah melakukan evaluasi-evaluasi dalam manufer politik. “Kami sudah satu pikiran, satu persepsi menuju sukses itu. Sehingga ada pola, pimpinan DPD sama DPC PAC satu persepsi yang harus dijalankan,” pungkasnya.

Pihaknya juga optimis dan menjadi sebuah pegangan Partai Hanura. Bagaimana Hanura Bali dalam meningkatkan kursinya. “Kami pernah diangka 31 kursi, itu artinya Hanura ada di hati masyarakat. Maka perlu memformulakan dan mempetakan, memperhatikan situasi sehingga suara bisa jadi kursi,” tutup Gde Wirajaya. [Sumber berita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here