Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto

Citra Network Nasional merilis hasil survei terbarunya tentang preferensi dan persepsi masyarakat jika Pemilihan Presiden (Pilpres) digelar hari ini.

Direktur Eksekutive Citra Network Nasional Dwi Harini Soejono menjelaskan, jawaban dari 2.140 responden tentang preferensi pilihan masyarakat terhadap ideologi partai politik, menurut hasil temuan, cenderung memilih partai politik berideologi nasionalis religius 39,4 persen di tempat pertama sebagai Top of Mind.

Kemudian disusul nasionalis 36,2 persen dan religius 17,1 persen, sera di urutan selanjutnya sebanyak 7,3 persen partai politik berideologi nasionalis sosialis.

“Dari hasil temuan penelitian tentang preferensi dan persepsi masyarakat jika pemilu digelar hari ini, maka Partai Golkar menjadi partai yang paling banyak dipilih sebagai Top of Mind dengan tingkat keterpilihan sebesar 14,9 persen disusul oleh PDI Perjuangan 14,8 persen, Gerindra 14,2 persen, Demokrat 4,2 persen, dan Nasdem 3,9 persen,” terang Dwi, Selasa (15/2/2022).

Selanjutnya, sambung Dwi ada PKS 3,2 persen, PKB 3,2 persen, PPP 1,2 persen, PAN 1,1 persen, dan Perindo 1,1 persen. Lalu PRIMA 1,1 persen, Partai Buruh 1,1 persen, Garuda 1 persen, PSI 0,7 persen, PBB 0,6 persen, Gelora 0,6 persen, Hanura 0,6 persen, Partai Ummat 0,2 persen, dan partai lainnya tidak yang memilih alias nihil. Sedangkan yang tidak menjawab atau memilih 30,8 persen.

“Sementara, dengan pertanyaan tertutup, di mana 2.140 respoden diberikan kertas kuisoner yang berisi nama-nama partai politik dan diminta untuk memilih dan alasan memilihnya, maka hasilnya juga menempatkan Partai Golkar di tempat pertama dengan dipilih sebanyak 17,6 persen,” ucap Dwi.

Kemudian di urutan kedua Partai Gerindra 16,8 persen, disusul PDI Perjuangan 16,4 persen, Demokrat 7,2 persen, PKB 5,2 persen, dan PKS 5,2 persen.

Selanjutnya ada Partai Nasdem 4,5 persen, PAN 2,1 persen, Perindo 2,1 persen, PPP 1,9 persen, PRIMA 1,7 persen, Partai Buruh 1,2 persen, Garuda 1,1 persen, PSI 0,8 persen, Gelora 0,7 persen, Hanura 0,6 persen, PBB 0,6 persen, Ummat 0,3 persen dan partai lainnya nihil. Sedangkan yang tidak memilih sebanyak 14,7 persen .

“Sedangkan, elektabilitas tokoh di mata masyarakat apabila Pemilu Presiden dilaksanakan hari ini (Top Of Mind), dengan Pertanyaan ‘Siapakah Tokoh Yang anda Pilih Jika Pemilu Presiden Dilaksanakan Hari ini?’ maka didapatkan hasil dengan peringkat pertama Airlangga Hartarto yang dipilih oleh 21,8 persen responden,” tutur Dwi.

Kemudian di peringkat kedua ada nama Prabowo Subianto yang dipilih oleh 15,3 persen responden, dan ketiga ada Ganjar Pranowo yang dipilih oleh 8,1 persen responden.

Selanjutnya ada nama Anies Baswedan yang dipilih oleh 7,5 persen responden, Gatot Nurmantyo dipilih 6,9 persen responden, Puan Maharani 6,1 persen, Muhaimin Iskandar 2,8 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 2,7 persen. Selanjutnya ada nama Erick Thohir 2,1 persen, Sandiaga Uno 1,8 persen dan terakhir yang tidak memilih 24,9 persen.

Hasil survei lainnya

Dwi kemudian menjabarkan, dengan pertanyaan yang sama menggunakan simulasi tertutup dari hasil temuan penelitian dengan kuesioner ‘Siapakah tokoh yang anda pilih jika Pemilu Presiden dilaksanakan hari ini?’, hasilnya peringkat pertama Airlangga Hartarto dipilih oleh 23,5 persen responden.

Kemudian diikuti nama Prabowo Subianto di peringkat kedua yang dipilih oleh 16,4 persen responden, dan ketiga ada Ganjar Pranowo yang dipilih oleh 8,3 persen.

Selanjutnya ada nama Anies Baswedan yang dipilih oleh 7,6 persen, Gatot Nurmantyo 7,7 persen, Puan Maharani 6,5 persen, Muhaimin Iskandar 3,3 persen, dan Agus Harimurti Yudhoyono 3,1 persen. Selanjutnya ada nama Erick Thohir 2,2 persen, Sandiaga Uno 1,9 persen dan yang tidak memilih 19,5 persen responden.

“Alasan responden memilih Airlangga Hartarto adalah karena Indonesia butuh keberlanjutan pembangunan yang sudah dijalankan Jokowi dan perbaikan ekonomi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat untuk mengurangi angka kemiskinan akibat dampak pandemi Covid yang diperkirakan akan tetap memepengaruhi kinerja Ekonomi Nasional Pasca Jokowi,” pungkas Dwi.

Survei dilakukan sejak 22 Januari hingga 6 Februari 2022 dengan 2.140 responden yang telah memenuhi persyaratan sebagai wajib pilih yaitu telah berumur 17 tahun dan atau telah menikah yang terdiri dari PNS, pelaku usaha, dosen dan mahasiswa, buruh, ibu rumah tangga, sopir angkot/bus, wiraswatawan/pengusaha dan petani.

Survei ini menggunakan metode Field Study dimaksudkan untuk mengumpulkan data primer melalui wawancara mendalam (indepth interview) dengan institusi dan stakeholders yang relevan.

Metode ini memiliki kelebihan yaitu pada kemampuannya untuk menggali detail aspek-aspek partisipasi dan preferensi masyarakat dalam Pemilu pada 2024.

Hasil penelitian memiliki Confidence Level 95 persen dan Confidence Interval 2,12 persen yang diambil dari 1070 kecamatan di 34 Provinsi di Indonesia dengan memperhatikan keseimbangan jumlah pemilih di setiap kecamatan pada Pemilu 2019. [Sumber berita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here