Partai Demokrat
Partai Demokrat

Demokrat yang dengan suara lantang selalu menyuarakan pentingnya kepemimpinan demokratis di era reformasi ini, akhirnya tenggelam dengan keputusannya sendiri dalam menentukan Ketua DPD Jatim.

Hal tersebut bertolak belakang dengan hasil keputusan Musda setelah Bayu Airlangga unggul mengantongi suara dukungan dari 25 DPC, dan Emil Dardak hanya mengantongi 13 dukungan DPC.

Bayu Airlangga dan pendukungnya harus menelan pil pahit karena penentu akhir ada pada Tim 3 yang tidak lain adalah Ketum, Sekjen dan BPOKK setelah keduanya mengikuti Fit n Proper test.

Ketum AHY harus menjelaskan kepada kami 25 DPC pendukung Bayu, di mana titik kekurangan Bayu dalam membangun jaringan membesarkan Demokrat Jatim, benarkah loyalitas Bayu terhadap Ketum dan PD diragukan ? Ataukah betul di Jatim ada begal-begal politik yang mewarnai keputusan Ketum?

Menyikapi permasalahan ini, sebagai sesama kader PD saya juga menyayangkan sikap seorang negarawan Emil Dardak bersama timnya yang belum bisa legowo menyikapi hasil dukungan di Musda dengan hanya mengantongi 13 dukungan.

Publik juga akan bertanya tanya: ada apa dengan Demokrat Jatim yang merupakan tanah kelahiran yang mulia Presiden ke-6 Bapak SBY?

Kami sangat kagum dan bangga kepada bapak sebagai pendiri partai tatkala nasehat, putusan diambil dengan sangat arif dan tidak melukai kader, tetapi hati kami sangat sakit begitu keputusan-keputusan besar yg diambil oleh elit partai tidak mencerminkan nilai-nilai demokratis.

Kami sadar bahwa hasil Musda PD Jatim akan menjadi tontonan yang seksi di ruang publik. Wassalam ungkapan hati dari Kader Istono Ketua DPC PD Kota Madiun. [Sumber berita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here