Bio Solar langka di Riau. (ANTARA/HO-Pertamina)
Bio Solar langka di Riau. (ANTARA/HO-Pertamina)

Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRD Riau Sahidin merasa sedih dan ironis atas kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis biosolar dan minyak goreng di wilayahnya. Masyarakat dibuat kesulitan dengan kondisi itu bahkan harus rela mengantre berjam-jam untuk mendapatkan solar bersubsidi dan minyak goreng di provinsi penghasil migas dan sawit terbesar di Indonesia tersebut.

“Kita sangat prihatin, mengapa di daerah penghasil minyak bumi dan sawit justru solar dan minyak goreng langka. Dua-duanya itu ada di Riau. Kita yang punya, di atas minyak,di bawah minyak. Rasanya aneh, ibarat itik berenang tapi mati kehausan,” kata Sahidin di Pekanbaru, Kamis.

Dikatakannya, kondisi ini menjadi sorotan serius Fraksi PAN DPRD Riau. Pihaknya akan menggunakan jalur politik untuk mengatasi kelangkaan dua komoditi yang sangat dibutuhkan masyarakat itu. Salah satunya, melalui komunikasi dengan Sekjen PAN Eddy Soerparno yang juga merupakan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI.

“Kami sangat serius memandang kelangkaan ini. Akan kami komunikasikan dengan Sekjen PAN yang juga merupakan wakil ketua Komisi VII DPR RI, Bapak Eddy Soeparno. Minimal solar ini bagaimana solusinya, apakah ada penambahan kuota untuk Riau. Ini yang coba kita dorong,” ucap Sahidin.

Sahidin mengatakan imbas dari kelangkaan solar dan minyak goreng ini dapat melumpuhkan sektor perekonomian masyarakat sebab perputaran ekonomi sangat bergantung pada moda transportasi. “Dunia usaha hampir kolaps. Baik angkutan, bus dan truk-truk semuanya yang menggunakan solar. Kalau dialihkan ke dexlite otomatis rentetannya pada lonjakan harga. Mulai dari bahan bangunan hingga ke sembako akan ikut naik. Yang terbebani siapa? Ujung-ujungnya masyarakat yang menanggung. Ini yang tidak kita inginkan,” kata legislator asal Kampar itu.

Untuk itu, Fraksi PAN mendorong kebijakan agar kelangkaan ini dapat segera diakhiri. Mengingat sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadhan. Harusnya masyarakat dapat menjalankan ibadah suci Ramadhan dengan tenang tanpa ada rasa khawatir.

“Bapak-bapak supir yang antre di SPBU bisa sampai seharian. Biasanya ke Sumatera Barat hanya ditempuh dengan waktu 5 jam sekarang bisa sampai sepuluh jam. Karena waktu mereka tersita di SPBU. Belum lagi kekhawatiran ibu-ibu akan lonjakan harga sembako. Dimana sebentar lagi akan masuk bulan suci Ramadhan,” kata Sahidin. [Sumber berita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here