Wakil Ketua Baleg DPR F-PKB Ibnu Multazam (kanan) bersama Anggota Komisi II DPR F-PAN Guspardi Gaus (kiri) Diskusi Forum Legislasi di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 6 April 2021. (Foto: BeritaSatu Photo/Ruht Semiono)
Wakil Ketua Baleg DPR F-PKB Ibnu Multazam (kanan) bersama Anggota Komisi II DPR F-PAN Guspardi Gaus (kiri) Diskusi Forum Legislasi di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 6 April 2021. (Foto: BeritaSatu Photo/Ruht Semiono)

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Guspardi Gaus geram dengan dugaan pernyataan bernada rasis yang disampaikan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Budi Santoso Purwokartiko. Guspardi menilai Budi Santoso layak dipecat dari tim penguji program LPDP. Tak hanya itu, Budi Santoso pun dianggap perlu diproses hukum terkait pernyataannya.

Diketahui, rektor ITK menyebut “mahasiswi menutup kepala ala manusia gurun”. Pernyataan ini disampaikan Budi Santoso menceritakan pengalamannya saat mewawancarai mahasiswa dan mahasiswi yang mengikuti program LPDP ke luar negeri. Hal itu ditulis Budi dalam akun Facebook miliknya pada Rabu (27/4/2022).

“Diksi tersebut dinilai cenderung merendahkan perempuan yang memakai penutup kepala (hijab) yang dikesankan sebagai manusia gurun yang terbelakang. Karena itu, Budi Santoso layak dipecat dari sebagai tim penguji atau pewawancara program LPDP ini. Selanjutnya supaya diproses hukum karena bertindak rasis menghina dan melecehkan wanita berhijab serta ajaran Islam,” ujar Guspardi, Kamis (5/5/2022).

Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PAN ini mengatakan Budi Santoso mungkin lupa atau tidak mau mengakui fakta bahwa ada perempuan muslimah yang mempunyai prestasi akademik dan bekerja di perusahaan besar. Dia mencontohkan seorang diaspora Indonesia, Ars Vita, perempuan muda berjilbab yang berhasil menembus pendidikan di dua universitas bergengsi di Amerika serikat.

“Sekarang Ars Vita bekerja di perusahaan SpaceX milik Ellon Musk orang terkaya dunia. Walaupun dihadapkan dengan perbedaan budaya, serta statusnya sebagai wanita muslim, Ars berani melawan diskriminasi hijab serta membuktikan wanita berjilab berhasil menggapai posisi penting di perusahaan raksasa teknologi yang didominasi laki-laki. Sungguh prestasi yang membanggakan,” ujarnya.

Guspardi menyayangkan pernyataan bernada rasis tersebut keluar dari mulut guru besar yang menjabat sebagai rektor. Guspardi mengatakan sidang Umum PBB, padahal menyerukan penguatan upaya internasional untuk mendukung dialog global yang mempromosikan budaya toleransi dan perdamaian, berlandaskan pada penghargaan terhadap HAM dan keberagaman beragama dan berkeyakinan.

“PBB juga telah menyepakati tanggal 15 Mei hari Internasional melawan islamofobia. Seorang yang bergelar profesor malah memperlihatkan sikap islamofobia. Sikap ini mencerminkan bentuk akumulasi kebencian kepada Islam yang dikemas dalam diksi yang ditulis hanya berdasarkan secuil pengalaman subjektif dalam mewawancari para mahasiswa yang mengikuti program LPDP,” katanya.

Lebih lanjut, Guspardi mengatakan pejabat publik dari lembaga akademis semestinya menjunjung tinggi dan merefleksikan academic attitude dan mindset.

“Kepada mahasiswi muslimah yang memakai kerudung/hijab tetaplah konsisten dengan memakai penutup kepala, karena itu adalah anjuran agama Islam. Jadikan kisah sukses Ars Visa diaspora Indonesia yang berjilbab menjadi inspirasi dan sindiran oleh seorang bergelar profesor itu sebagai motivasi dan memacu semangat untuk dapat membuktikan wanita muslimah itu dapat berprestasi dan berbuat untuk kepentingan bangsa, negara dan agama,” kata Guspardi. [Sumber berita]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here